Postingan

Pohon Pemanggil

Dulu rumah ini sangat ramai, dan menyenangkan. Kini hanya ada aku, sendirian cemas berputar-putar kebingungan. Hari ini aku akan menebang pohon itu, aku harus melakukannya atau semuanya terlambat. “Jangaann...” suara itu terdengar nyata dari balik pohon pekarangan rumah. Kau mungkin bisa membayangkan rumah dengan seluas 〖1ha〗^2 ditempati oleh diriku seorang saja. Setiap saat aku takut bayang-bayang itu datang. Ketakutanku terjadi, tiba-tiba muncul sesosok bayangan yang berbeda dari sebelum-sebelumnya di ruang tamu saat aku membuka gorden kamar atasku. Ia melambai-lambai berjalan keluar rumah menembus pintu. Saat itu aku siap untuk menebang pohon di pekarangan. Aku berjalan ke lantai bawah mencoba mengikuti bayangan tersebut, “ini sudah terlalu malam, apa aku tidak mengganggu tetangga jika menebang pohon ini sekarang” batinku dalam hati. “Sekarang atau semuanya tak pernah berakhir” aku harus menebangnya. **** Rumahku terlihat sangat angker. Pekarangan yang lebar nya seperti ...

Hakikat Jiwa yang Tangguh

Awan cerah mulai bertransformasi, perlahan namun pasti Sang Awan menunjukkan gelapnya malam. Tak lama kemudian rintik-rintik air mulai membasahi pipi ini. Yap..tepat disini, di Pelabuhan aku mengukir kenangan bersama ayahku , aku selalu merasakan kehadirannya walau sebenarnya Dia sudah tidak ada lagi. Aku rindu akan motivasinya, aku rindu akan filosofinya, aku rindu segala yg telah ada pada dirinya sentuhan kata-katanya masih menempel dalam pikiranku. Ini semua berawal ketika aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Hari itu pagi sekali aku sudah siap untuk berangkat sekolah… “Adek ayok cepetan nanti terlambat loh ..!!” kakak ku mengingatkan ku “iya Kak bentar... ini udah selesai kok makannya” berangkat pukul 07.00 pulang 13.00 itulah rutinitas sekolah ku “ Adek kapan UN nya..?” “Nggak tau kak mungkin sebulan lagi” jawabku sekenanya, seingatku sih UN nya masih lama..”Nanti siang adek ada acara..?” “Nggak kak, kenapa emange..?” b i asanya sih kakak ku mengajak pergi ke pelabuh...

Berpulangnya Kawanku Oton

Bepulangnya Kawanku Oton Malam ini begitu sejuk, aku duduk merenung di koridor lantai tiga. Ingatan itu masih saja melekat ketika kau datang menceritakan segalanya padaku. Begitu juga denganku, sebutan “koplo” darimu masih saja ingin aku dengarkan dari mulutmu. “Zak, ngapain Ente melamun sendiri? Masih kangen Oton ya ?” Usman teman kamarku menghampiri “Hem... mungkin masih iya man” Jawabku pada Usman Aku dan Oton begitu dekat, hampir setiap malam kantin pondok adalah tempat kami bercanda, belajar, dan bercerita. “Bilangin pengurus ya man, aku ke kantin dulu. Mungkin nanti kembali sekitar jam 09.00 lah.” Pintaku pada Usman. “Oke Zak, gampanglah masalah itu.” Aku pergi melangkah meninggalkan asrama kamar, menuju ke kantin dengan langkah gontai. Kulihat awan malam tak menunjukkan bintangnya sama sekali. Tiba-tiba rintik hujan mulai berjatuhan dari langit, akupun mempercepat langkahku. “Bu.. kopi satu.” Kataku pada ibu kantin. “Owalah nak Zaki, kok tumben dateng send...