Berpulangnya Kawanku Oton
Bepulangnya Kawanku Oton
Malam ini begitu
sejuk, aku duduk merenung di koridor lantai tiga. Ingatan itu masih saja
melekat ketika kau datang menceritakan segalanya padaku. Begitu juga denganku,
sebutan “koplo” darimu masih saja ingin aku dengarkan dari mulutmu.
“Zak, ngapain
Ente melamun sendiri? Masih kangen Oton ya ?” Usman teman kamarku menghampiri
“Hem... mungkin
masih iya man” Jawabku pada Usman
Aku dan Oton
begitu dekat, hampir setiap malam kantin pondok adalah tempat kami bercanda,
belajar, dan bercerita.
“Bilangin
pengurus ya man, aku ke kantin dulu. Mungkin nanti kembali sekitar jam 09.00
lah.” Pintaku pada Usman.
“Oke Zak,
gampanglah masalah itu.”
Aku pergi
melangkah meninggalkan asrama kamar, menuju ke kantin dengan langkah gontai.
Kulihat awan malam tak menunjukkan bintangnya sama sekali. Tiba-tiba rintik
hujan mulai berjatuhan dari langit, akupun mempercepat langkahku.
“Bu.. kopi satu.”
Kataku pada ibu kantin.
“Owalah nak Zaki,
kok tumben dateng sendirian. Teman satunya mana?” Ibu kantin sedikit heran, mungkin
teman yang ia maksud Oton. Aku tak berminat menceritakan, hatiku masih
mengatakan bahwa ia selalu datang bersamaku.
“Hahah gak ikut
bu.” Jawabku mencoba ramah.
Aku mengambil tempat
duduk di pojok, mengeluarkan rokokku. Tak lama kemudian kopiku datang, aku
mulai menyulut rokokku.
“Seandainya kau
masih di sini Ton, mungkin kopi ini tak sendirian seperti sekarang.” Kataku
lirih.
−
Salah satu
kebiasaanku di malam hari adalah duduk melihat awan di koridor lantai tiga
kamarku, karena bagiku melihat awan dengan beribu bintang sungguh indah dan menyenangkan.
Pernah suatu hari aku melihat hanya satu bintang yang muncul dalam langit, “Akankah
ia merasa sendiri.” pikirku dalam hati.
“Eh koplo, aku
pengen cerita.” Tiba-tiba saja Oton duduk di sebelah kiriku.
“Loh, kapan
datangnya?” Aku terkejut melihatnya.
“Udah ah, nggak
penting. Aku kangen nih sama pacar.” Ia memasang wajah serius.
“Hahah yakin kangen?
Belajar sama mondok dulu yang bener. Baru boleh bilang kangen.” Aku mencoba
mencairkan suasana.
“Enggak plo, aku
serius ini.” Nampaknya ia benar-benar ingin bercerita.
“Yaudah ceritain
aja, mumpung lagi nganggur.” Kataku tersenyum.
“Tapi nggak enak
ah di sini.” Oton menoleh ke kanan-kiri. Koridor nampaknya masih ramai dilewati
oleh teman-temanku, mungkin ia malu jika teman-teman yang lain ikut
mendengarnya.
“Trus ke mana?” Tanyaku
heran.
“Ke kantin tempat
biasanya bisa? Tapi nggak ada duit nih.” Wajah melasnya keluar, aku sudah tak
tahan dengan raut wajah seperti itu.
“Bisa kok, haha
salah siapa nggak ada duit? Trus gimana ini?” Aku sedikit menggodanya.
“Beneran plo, ga
ada duit nih.” Ia menaggapi serius ternyata.
“Iyaudahlah
gampang uang kok dipikir.”
“Hahah budal..!!”
Ia berlari sambil menjewer telingaku.
“Eh sakit Tonnn..!!
Dasar.!!” Kataku mengejarnya berlari keluar asrama.
Beitulah kami,
seserius apapun tetap kocak. Tak peduli segalau, sesedih, sekecewa apapun asal
mode koplo kita on, semua orang sekeliling kita pasti tertawa. Kami berdua
lebih sering disebut double koplo, dan nama Oton sendiri berarti edan dalam
sebutan bahasa di daerah kami.
“Ton tunggu...” Kataku
sambil berjalan terengah-engah.
“Ah lemot lu.” Dia
berjalan kebelakang sambil mengejekku.
“Tungguin dong
ton! Apa nggak jadi dibayarin ini!!” Teriakku mengancam. Aku jauh tertinggal
dibelakanya, meski sudah kucoba menyusulnya.
“Haha nggak takut
plo!!” Ia merogoh saku dan mengeluarkan uang, akupun terkejut. Kulihat uang
saku di kemejaku telah raib.
“Awas kau Ton!” Kataku
berlari mengejarnya sekuat tenaga.
“Hahah coba saja
kalau bisa.” Ia tak kalah cepat berlari menghindariku. Untung saja aku berhasil
mengejarnya, dan langsung saja kujitak kepalanya biar tahu rasa dia.
“Hahah udah plo,
ampun plo ampun.” Nampaknya ia kesakitan, akupun melepaskannya.
“Cari tempat
duduk, tak pesenin kopi dulu.”
“Bu, kopi kayak
biasanya ya?” Kataku memesan dengan ramah.
“Dua kayak
biasanya ya nak Zaki?”
“Iya bu.” Akupun
melangkahkan kaki menuju tempat duduk Oton.
Malam itu ia
bercerita banyak tentang pacarnya, kerinduannya terasa berbeda dari sebelumnya.
Entah katanya ia ingin sekali bertemu dengan pacarnya. Aku terdiam kali ini,
biasanya Oton hanya menceritakan sifat pacarnya atau awal ketika ia berteman
lalu jadian. Tapi kali ini ia benar-benar ingin bertemu, padahal yang kutahu Oton
adalah anak penakut, ia takut sekali berhadapan dengan perempuan apalagi
seumurannya. Ia pernah bercerita ketika pertama kali bertemu dengan pacarnya,
ia terdiam seribu kata lalu pergi tak jelas tunggang lari kesana-kemari. Lain
hal lagi dengan kisah asmaraku, aku masih tak berani meskipun sekedar kirim
message ataupun bertemu langsung dengan wanita semenjak kepergian seseorang
yang pernah singgah dalam hati ini.
“Udah malam
banget Tonn, balek yok.” Kataku sambil menyeruput habis kopi.
“Yaudahlah ayok,
padahal masih betah ngopi sama lu plo. Hahah berhubung nggak ada duit, yaudah
deh nurut aja.” katanya tertawa.
“Nanti kalok
absenan telat, ujung-ujungnya dihukum jalan jongkok keliling lapangan 5 kali.” Protesku
padanya. Meskipun hanya 5 kali tapi keliling lapangannya sama dengan Gelora
Bung Karno kalau dilihat.
“Haha gampang,
nanti bilang lu yang ngajak kan beres.” Ia tertawa meninggalkan bangku tempat
duduknya.
“Sialan, jalan
jongkok double nggak lucu sama sekali Ton.” Kataku lirih.
Aku dan Oton lalu
berjalan menuju asrama bersama-sama, bergandengan layaknya patrick dan
spongebob.
Sahabat sejati...
Slalu ada di
hati..
Teman..Untuk
selamanya...
−
Tak kenal siang
malam bagiku untuk meminum kopi, apalagi kopi buatan Bu Inem di kantin
langgananku. Serasa dunia ini tak bisa lengkap tanpa kopinya. Saat aku
menyeruput kopiku kulihat seseorang berjalan dengan langkah gontai. Aku
memperhatikannya dengan seksama, sepertinya aku kenal? Bukankah itu Oton?
“Tonn...Oton!!”
Teriakku memanggilnya, ia menoleh menghampiriku tanpa sepatah katapun.
“Mau kemana bawa
tas isi penuh segala?” Tanyaku heran.
“Mau pulang plo.”
Katanya.
“Hahah beneran
pulang Tonn?”
”Iya plo beneran,
kangen orang tua nih.”
“Hahaha tadi
malam bilangnya kangen pacar, sekarang kangen orang tau, kangenin Zaki dong Tonn.”
Kataku tersenyum sambil mengangkat kedua alisku.
“Hahah ngayal..!!
Sana cari cewek biar ada yang ngangenin!!”
“Hahah apa
jangan-jangan mau ketemuan sama pacar nih ye....”
“Eh koplo kurap,
beneran kangen ortu nih.”
“Awas lu bro
sampai ketemuan, traktiran kopi ya?”
“Iya pasti gue
traktir kalo ada duit hehe” Jawabnya cengengesan.
“Yaudahlah, keburu
hujan cepet berangkat sana!! Salamin ke ortu ya dari zaki, mungkin adek lu bisa
di prospek nih” melayanglah tangannya menjitak kepalaku
“Adik ane masih
kecil, gak usah aneh-aneh!!” Katanya
sambil berlalu meninggalkanku.
Waktu berlalu
seperti biasanya, tak ada yang spesial karena Oton sekarang pulang ke rumah.
Hanya beberapa yang dapat membuatku tersenyum, tapi tetap saja hanya Oton yang
dapat membuatku tertawa lepas.
1 Hari
berlalu....
“Eh Zak, Oton
masuk rumah sakit.” Tiba-tiba saja Usman mendekatiku.
“Eh yang bener?
Sejak kapan?” Jawabku serius.
“ Dari tadi pagi,
mungkin habis ini anak-anak mau kesana. Ente ikut nggak?” Usman menawariku.
“Eh ikut-ikut.”
Kenapa aku baru tahu, apa mungkin ia pulang karena sakit? Setahuku dia dulu
memang pernah dirawat karena memiliki penyakit di area usus. Aku kira ia sudah
sembuh total semenjak pulang dari rumah sakit setahun yang lalu.
“Zak, kita mau balek
nih... Kayaknya lu masih kerasan.” Kata salah satu temanku.
“Nanti bakal
nyusul ke asrama kok, tenang aja.”
“Yaudahlah,
Sekalian kita pamit dulu ya?” Teman-temanku lalu melangkah keluar dari kamar
rumah sakit satu per satu, kini tinggal aku yang masih betah menengok Oton.
“Plo lu gak balik?” Kata Oton lirih.
“Nyantai aja Tonn,
always setia njagain sobat yang satu ini kok.” Jawabku sedikit menghibur. Tak
lama kemudian seorang suster cantik datang membawa makan malam, kurasa ini
sudah jam makannya Oton.
“Mas, makanannya
dimakan sampai habis ya?” si suster tersenyum ramah kepada Oton.
Aku mendekati Oton,
kubisikkan ke telinganya “Enak banget ya makan aja diperhatiin.”
“Mbak sust!!” Oton
memanggil si suster, aku kaget salah tingkah tak karuan.
“Ini ada teman
saya mau minta diperhatiin juga makannya.” Katanya nglantur, disaat sakit
seperti ini masih saja ia sempat membuat orang sekamar tertawa.
“Haha nggak mbak
cuman bercanda, jangan ditanggapin serius.” Aku sedikit malu.
“Nak zaki, tolong
rayu Oton biar mau makan ya? Dari tadi susah banget makannya. Padahal
kepinginnya segera normal biar bisa cepat-cepat dioperasi.” kata Ibu Oton
membisikiku.
“Ton ini kok gak
dimakan?” Aku mencoba merayu.
“Nggak nafsu plo.”
Katanya lemas.
“Dimakan apa tak
habisin?” Aku tetap mecoba merayu, tapi kali ini agak mengancam.
“Haha makan aja,
habisin sekalian juga gak papa.” Katanya pelan.
“Gak usah banyak
omong, ayo buka mulut!!” Kataku menodongkan sendok berisi bubur.
“Aduh susah nih
kalau maksa.” Oton tersenyum sambil membuka mulutnya, ibu dan ayah Oton tertawa
melihat kelakuan kami berdua. Begitu
senangnya kami tertawa lepas, walau aku tahu kondisinya masih belum pulih Total.
“Mas, tolong
jangan diajak bercanda terus, mas nya yang sakit butuh istirahat.” Tiba-tiba
suster cantik itu membuka pintu.
Aku bisikkan
kepada Oton, “Yaudah Ton, pulang dulu. Kayaknya si suster sudah cemburu berat
nih.”
“Haha mau
dibilangin ke susternya lagi nih.”
“Eh gila, gak usah.
Pokoknya tak tunggu di tempat biasanya ngopi.” Aku sekalian berpamitan.
“Oke bos.” Ia
lirih mengucapkannya sambil tersenyum. Ton Oton ada-ada saja kau itu, kemarin
bilang kangen ortu terus kemarinnya lagi bilang kangen pacar terus sekarang
malah ke rumah sakit. Yang sabar ton...
Tetap tersenyum
kawan..
Tatap mataku
kawan...
Jangan pernah kau
merasa sepi sendiri..
Aku di sini
kawan..
Tetap menunggumu
bersama-sama lagi...
−
Hari ini seperti
biasa, aku bangun sedikit kesiangan. Hanya saja pagi ini aku masih belum
melihat Oton sembuh sehingga kita dapat berkumpul di asrama bercanda dan
bercerita bersama-sama. Akupun berjalan keluar kamar, kulihat di koridor
anak-anak sedang ramai membicarakan sesuatu. “Masih sepagi ini sudah ada berita
apalagi?” tanyaku heran.
“Woi ada apa
ini?” Kataku memecah suasana, Usman teman kamarku mendekatiku. Ia memasang raut
wajah tak enak.
“Oton berpulang Zak.”
Usman lirih mengucapkannya, semua pergelangan ku lemas tiba-tiba.
“Hahah nggak usah
bercanda, tadi malam masih sehat kok” Aku tak percaya mendengarnya.
“Nggak Zak, tadi
subuh ia sudah dikabarkan sudah berpulang.” Kata usman mencoba meyakinkanku.
Braakk...aku
duduk terdiam. Pandanganku kabur... Ini tak mungkin, ia sudah mengatakanku akan
menyusul ke kantin. Tuhan, ini begitu berat bagiku.
Sore hari
Seusai menyolati
dan mengantarkan di tempat peristirahatan terakhirnya, aku duduk di teras depan
rumahnya. Mataku sembab, tak ada yang bisa kukatakan. Aku tertunduk lemas sendiri,
entah tiba-tiba saja air mata ini menetes. Aku tak tahu kenapa air mata ini
menetes? Yang jelas sekarang dalam mataku hambar menatap hari esok ketika aku
kini dan seterusnya tak dapat berjalan beriringan bersamammu lagi. Sudah lama
air mataku berhenti menetes, benar-benar menyedihkan. ”Aku tak tahu apa yang
akan terjadi selanjutnya tanpamu kawan.” kataku lirih menangis sesenggukan.
Salah satu temanku duduk di depan ku, nampaknya ia tahu aku menangis.
“Tak
apalah..menangislah aku juga tau bagaimana perasaanmu kali ini. Percaya atau
tidak, aku pernah mengalaminya.” Ia seakan menutupiku agar tak terlihat
orang-orang bahwa aku sekarang dalam kondisi menangis. Biarlah kali ini aku
cengeng, tapi aku benar-benar merasakan arti kehilangan.
Selamat jalan
kawan..
Mimpilah yang
indah dalanm tidur panjangmu..
Selamat tinggal
kawan...
Semoga kau abadi
dan damai di alam sana..
“Dari kawanmu
yang selalu merindukanmmu.” − Zaki
Komentar
Posting Komentar