Pohon Pemanggil

Dulu rumah ini sangat ramai, dan menyenangkan. Kini hanya ada aku, sendirian cemas berputar-putar kebingungan. Hari ini aku akan menebang pohon itu, aku harus melakukannya atau semuanya terlambat. “Jangaann...” suara itu terdengar nyata dari balik pohon pekarangan rumah. Kau mungkin bisa membayangkan rumah dengan seluas 〖1ha〗^2 ditempati oleh diriku seorang saja. Setiap saat aku takut bayang-bayang itu datang. Ketakutanku terjadi, tiba-tiba muncul sesosok bayangan yang berbeda dari sebelum-sebelumnya di ruang tamu saat aku membuka gorden kamar atasku. Ia melambai-lambai berjalan keluar rumah menembus pintu. Saat itu aku siap untuk menebang pohon di pekarangan. Aku berjalan ke lantai bawah mencoba mengikuti bayangan tersebut, “ini sudah terlalu malam, apa aku tidak mengganggu tetangga jika menebang pohon ini sekarang” batinku dalam hati. “Sekarang atau semuanya tak pernah berakhir” aku harus menebangnya.
****
Rumahku terlihat sangat angker. Pekarangan yang lebar nya seperti lapangan golf tertimbun rerumputan yang panjangnya bisa menutupi kakimu, hanya tersisa jalan yang agak lebar untuk menuju ke pintu rumah. Pekarangan tersebut sudah lama tak dirawat, aku hanya mendapatkan warisan yang tak pernah kuduga sebelumnya. Ceritanya klasik, aku adalah anak yang dibuang oleh orangtua ku dengan keadan tertutup kain selendang dan diberi nama. Oh iya kenalkan namaku Hana, terdengar seperti perempuan kan? Tapi aku laki-laki dan aku sangat membenci nama itu. Tak apalah, apa arti sebuah nama bagiku. Hari ini aku benar-benar lelah, untung saja mangata mau ikut menemaniku di rumah. Mangata adalah adik tiriku yang umurnya tak jauh berbeda denganku, kami kuliah di tempat yang sama.
Sebentar aku ingin istirahat, setelah itu akan kuceritakan sesuatu untukmu. Tentang pohon dan batu nisan yang sudah tak karuan lagi bentuknya. “Di pekarangan rumahku terdapat satu pohon gersang yang sangat besar, seperti pohon beringin”. Mangata terdiam sejenak mencoba mendengarkanku dengan seksama.
“Dimana..? disini banyak pohon.” ia mengernyitkan dahi mencoba mencari tahu dimana letak pohon yang aku maksud.
Aku tersenyum, sebaiknya kau jangan melihatnya mangata. Di pekarangan rumahku memang terdapat banyak pohon yang besar-besar, namun mangata memaksa agar aku memberitahunya. Aku menunjuk ke sebelah barat pekarangan rumah. Ia mengintip di jendela kamarku, lalu wajahnya kaget. “Kau melihatnya kan?”
“I...ii..i..tu seperti wajah banyak han..?” ia terbata-bata mengatakannya, sambil jari nya menunjuk ke arah pohon tersebut. Sepertinya ia menghitungnya, dan itu sudah lazim dilakukan orang-orang di sekitar rumahku ketika mengetahui pohon tersebut. Meskipun jarak antara rumahku itu terlalu jauh dengan rumah tetangga yang lain. “Sudah, tak usah dihitung. Dengarkan ceritaku saja.” mangata pun kembali duduk disampingku.
Dahulu rumah ini ditempati oleh kakek, nenek, paman, bibi, ayah, ibu, kak Jayus, kak novi , pembantu, dan mang Sikin. Awal pertama kali aku tahu rumah ini sekitar 2 tahun yang lalu, mang sikin mencariku dengan notaris ayah guna menyerahkan rumah ini padaku. Mang sikin sendiri sudah terlalu tua untuk mengurus rumah ini. Meskipun gaji pensiun dari ayah yang diberikan kepada mang sikin sebagai honor untuk mengurus rumah peninggalannya cukup besar. Kak Jayus adalah anggota keluarga yang terakhir kali masih sempat hidup. Sebenarnya aku mendapatkan semua info ini dari Mang sikin setelah sehari aku menempati rumah ini. Mang sikin orang yang suka bercerita, tapi ceritanya agak sedikit sulit dipercaya. Berbau mistis dan menyeramkan, perawakannya sendiri sudah sangat tua dengan udeng yang selalu menempel di kepalanya. Meskipun umurnya tak dapat dipungkiri namun badannya masih terlihat bugar, awalnya aku kira ia masih berumur 40an. Otot-otot di tangannya seperti menunjukkan bahwa ia adalah olahragawan di cabang angkat besi atau memang karena pekerjaannya saja yang menjadikannya seperti itu. Cerita mengalir dari mulutnya, ia juga orang yang ramah senyum. Singkat kata ia menamai pohon tersebut dengan nama “Pohon Pemanggil”. Katanya, seluruh anggota rumah terbunuh karena pohon pemanggil tersebut. Aku mengangguk-angguk “Coba deh dilihat lagi den hana, pohonnya itu aneh. Pohon tersebut memanggil korbannya, mereka bakal dateng dan bunuh diri disana.” Aku pun melihatnya sejenak “Apa mungkin itu wajah-wajah mereka yang terbunuh?” wajah-wajah itu terus terbayang di kepalaku.
“Emangnya mang sikin nggak dipanggil ya?” aku bertanya dengan nada kebingungan, ia tiba2 terdiam sejenak. Wajahnya sedikit menegang berbeda dengan sebelumnya ketika ia bercerita.
“Sudahlah den han, pohonnya cepet ditebang saja. Biar nggak menimbulkan masalah” Nampak nya ia mengalihkan pembicaraan. Aku jadi tak enak hati, tapi aku juga takut dan kebingungan. Mang sikin berpamitan pulang. Akupun sendirian, tapi tak apalah. Aku juga tidak mengganggu.
****
“Eh han kalo gini aku ngga mau deh nginep disini” mangata tiba-tiba beranjak dari sampingku, nampaknya ia ketakutan. “Lah tega nih ninggalin?” aku mencoba merayunya untuk menemaniku, ini juga ngga baik bagi mangata untuk beranjak karena hari sudah mulai gelap.
“Kalo nemenin sih mau, lagian kan lo udah lama tinggal disini. Pasti udah kenal lah sama setannya” ia nyeletuk ngomong gitu sambil cengingiran keluar kamar. “Yaudah hati-hati ya bro, makasih udah mampir”. Aku sebenarnya jarang sih mengalami gangguan di rumah ini, cuman hanya beberapa kali terlihat bayangan dan suara pertolongan dari pohon tersebut. Kutengok dari jendela mangata mulai melangkah keluar menuju pagar. Tiba-tiba ia terjatuh, kakinya seperti ada yang menyeret dengan cepat.
“Han..tolonggg..!!” aku mendengarnya agak samar, aku juga bingung mau keluar. Tak pernah aku melihat kejadian seperti ini sebelumnya. Aku takut jika aku keluar, aku akan terbunuh juga. Kulihat mangata terseret ke arah pohon pemanggil. Mau tidak mau aku harus keluar, rumahku jauh dari tetangga. Bagaimana kalau aku panggil polisi saja? Aku harus bagaimana ini? Tak sedikitpun aku berani membuka pintu kamar.
Hari sudah mulai malam, aku masih tak dapat menghapus kejadian tadi. Aku harus melakukannya atau semuanya terlambat. “Jangaann...” suara itu terdengar nyata dari balik pohon pekarangan rumah. Saat aku membuka gorden kamar atasku terlihat sebuah bayangan. Ia melambai-lambai berjalan keluar rumah menembus pintu. “Nampaknya itu bukan bayangan yang seperti baisanya” aku bertanya-tanya dalam hati. Saat itu aku siap untuk menebang pohon di pekarangan. Aku berjalan ke lantai bawah mencoba mengikuti bayangan tersebut, “Ini sudah terlalu malam, apa aku tidak mengganggu tetangga jika menebang pohon ini sekarang” batinku dalam hati. “Sekarang atau semuanya tak pernah berakhir” aku harus menebangnya. Aku berjalan pelan-pelan menuju pintu, membaca semua doa yang dapat kubaca. Gagang pintu kupegang sambil melantunkan doa-doa yang dapat kuingat, lalu kubuka. Terlihat jelas bayangan saat aku menoleh kebawah, “Ini bukan bayangan tadi, ini bayangan yang seperti biasanya” batinku gemetar ketakutan. Tatapanku terus kuarahkan keatas. Aku tertegun setengah mati, matanya merah. Tangan kanannya membawa gergaji mesin sambil membawa sebuah kepala terpotong di tangan kirinya.
****
Sebulan sebelum kejadian tersebut, berita sempat digegerkan dengan pembunuh berdarah dingin seorang lelaki tua yang menjadi buronan. Aku sempat mengumpatinya “Awas saja sampai ketemu aku, kubunuh kau” kataku dalam hati. Tapi tunggu, sepertinya aku tahu foto buronan itu. Ah mana mungkin orang seramah dia seperti ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berpulangnya Kawanku Oton

Ramadhan dan Aku