Hakikat Jiwa yang Tangguh
Awan cerah
mulai bertransformasi, perlahan namun pasti Sang Awan menunjukkan gelapnya
malam. Tak lama kemudian rintik-rintik air mulai membasahi pipi ini. Yap..tepat
disini, di Pelabuhan aku mengukir kenangan
bersama ayahku, aku selalu
merasakan kehadirannya walau sebenarnya Dia sudah tidak ada lagi. Aku rindu
akan motivasinya, aku rindu akan filosofinya, aku rindu segala yg telah ada
pada dirinya sentuhan kata-katanya masih menempel dalam pikiranku. Ini semua berawal ketika aku masih
duduk di bangku Sekolah Dasar.
Hari itu pagi sekali aku sudah siap untuk
berangkat sekolah… “Adek ayok cepetan nanti terlambat loh ..!!” kakak ku mengingatkan
ku “iya Kak bentar... ini udah selesai kok makannya” berangkat pukul 07.00
pulang 13.00 itulah rutinitas sekolah ku “ Adek kapan UN nya..?” “Nggak
tau kak mungkin sebulan lagi” jawabku sekenanya, seingatku sih UN nya masih
lama..”Nanti siang adek ada acara..?” “Nggak kak, kenapa emange..?” biasanya sih kakak ku mengajak pergi
ke pelabuhan buat nyelesain skripsi
akhirnya … Kakak kuliah sudah lama setahuku ambil Jurusan perikanan dan
peternakan. Namanya Naila cantik sih, tapi tetep cantik an adiknya
kok..hahah “Nanti ikut kakak mau nggak?” “Iya deh kalok nggak ada PR kak” kebiasaan mengerjakan PR sehabis pulang sekolah memang sudah ditanamkan
sejak kecil “Kak kapan ayah pulang?” kataku lirih “Nggak tau katanya sih bulan
depan” “Dari dulu jawabannya bulan depan terus..” kataku sebal “Huusshh..nggak
boleh ngomong gitu ayah kan kerja buat kita.. biar adek bisa sekolah biar kakak
bisa kuliah”. Rinduku pada ayah memang menyebalkan, jika dalam satu tahun ada
12 bulan maka hanya 3 bulan lah ayah pulang ke rumah. Ayah ku seorang Nahkoda
begitu tegas, matanya selalu menunjukkan bahwa ia adalah seorang laki-laki yang
tegar bahkan ketika dulu saat Ibu sudah tiada ia tetap tegar tak menangis,
tetap tegar menjalani kehidupannya tanpa kekasihnya walaupun aku tahu hatinya mulai
rapuh. 20 menit berlalu “Udah nyampek dek, blajar yang rajin yah”.
Kalender Juni telah usai, kini menginjak tanggal muda Juli. Ujian Nasional ku selesai
begitu cepat hasilnya pun sudah keluar, sangat memuaskan tidak ada raut wajah
yang mengecewakan diantara aku dan kakak ku. Tak cuma itu ayah berkirim surat
katanya ia akan pulang besok pagi, begitu menyenangkan bukan..aku harap hasil
Ujian Nasional sebagai kado terindah bagi ayah ketika ia datang kerumah nanti. Teman-teman
juga sudah sering bertanya mau kemana nglanjutin sekolanya tapi aku hanya
menjawab entah menunggu keputusan ayahku “Emangnya pingin masuk ke sekolah mana
seh dek? Kok dari tadi kayaknya bingung ..kan nilai kamu bagus” kata kakakku
“Yah itu masalahnya kak ..aku bingung pinginnya sih masuk sekolah unggulan aja,
teman-temanku juga banyak yang kesana tapi takutnya ayah nggak setuju” dengan
intonasi rendahku seperti itu aku harap kakakku dapat membantu ku membujuk ayah
“Kan adek tau sendiri dari dulu ayah pinginnya habis ini adek mondok... biar
nggak kena pergaulan bebas yang kayak sekarang ini” ia mencoba menjelaskan
kepadaku “Tapi kan kakak dulu nggak mondok..kenapa sekarang aku yang mondok!
Nggak adil kak” aku protes kepadanya “Beda adek.. zamannya kakak dulu nggak
kayak gini..” “Pokoknya nggak adil..!!!” sahutku marah sambil masuk ke kamar.
Sebenarnya aku sudah tau kalau ayah inginnya aku pergi ke pesantren daripada
sekolah umum, meskipun aku sudah mencoba meyakinkanya. Aku masih ingat ketika
aku terakhir meyakinnya di pelabuhan sewaktu kelas 5, karena bagi ayah
pelabuhan adalah tempat terbaik untuk menyaksikan senja sambil bercerita. “Ayah
tau Zahro anaknya teguh pendirian, pendiam, nggak akan ikut-ikutan pergaulan
bebas zaman sekarang. Tapi Zahro harus ingat dunia ini selalu berputar
...terkadang air pasang, lalu surut. Sini! Lihat itu.. Cahaya matahari begitu redup
bukan? Padahal tadi pagi ia begitu terang layaknya zahro. Ayah nggak mau ketika
cahaya zahro mulai redup zahro mulai ikut-ikutan teman zahro yang aneh-aneh,
ayah cuman ingin menjaga zahro” ia memelukku begitu erat.
Tok..tok..tok.. “Naila ..Zahro ayah datang” ketukan itu membuat ku terkaget, aku bergegas
lari dari dapur untuk membukakan pintu “Kak...ayah datang..!!” aku meneriakki
kakak ku yang ada di dalam kamar. “Wah wah anak ayah sudah besar ya...? Naila
gimana udah dapat calon kan...hahha” terlihat dari wajah kakak ku ia sedikit
malu-malu untuk mengenalkan calonnya “Sudah yah tinggal nunggu persetujuan dari
ayah” wajah nya sedikit memerah “Eh kakak kok nggak ngenalin ke zahro sih
calonnya kakak” protesku “Kan adek nggak harus perlu tahu..weekk” ia
mengejekku. Begitu hangat bukan suasana ketika kami berkumpul, ayah melihat
kakakku sudah mulai dewasa dan ia siap untuk menikah sedangkan ayah melihatku
penuh bangga ketika aku memberikannya selembar kertas pengumuman hasil ujian
nasional ku “Yah..sebenarnya zahro pingin..” belum selesai aku berbicara ayah
menyahut “sstt.. kita bicarakan nanti saja hadiahnya...oh iya nanti sore zahro
harus ikut ayah ke pelabuhan ceritakan bagaiman soal ujian nasionalnya
zahro..sekaligus lihat senja matahari..kan zahro dulu suka senja di pelabuhan”.
Kami bersenda gurau terkadang membahas pengalaman ayah ketika dilaut lalu
bercanda rencana pernikahan kakak, keadaan ini sudah sangat kurindukan dari
dulu. Sore ini aku harus memberanikan
diri untuk mengatakan aku ingin melanjutkan sekolahku di umum bukan pesantren
“ayah jadikan ngajak zahro ke pelabuhan?” tanyaku “oh iya sebentar zahro ayah
ke kamar dulu” setelah itu kami meninggalkan kakak dirumah yang sedang sibuk
menyiapkan daftar nama undangan pernikahannya. Kami duduk ditempat seperti biasanya,
tempat dimana aku dan ayah ku dapat melihat senja begitu indah “ayah..zahro
sebenarnya nggak pingin ke pesantren” aku mengatakannya denga lirih takut
menyinggungya “hmm.. sebenarnya ayah cuman ingin menjaga zahro ..yang ayah
nggak mau cuman ketika zahro..” “ketika zahro mulai redup dan zahro ikut-ikutan
pergaulan nakal kan?? Zahro nggak akan kayak gitu yah..ada kak naila dan dan
calon suaminya yang mungkin akan menjaga zahro ketika ayah berlabuh nanti..”
aku sedikit menyela perkataan ayahku “ tidak zahro ...ayah tidak akan keberatan
jika melepas pekerjaan ayah untuk menjaga zahro..suatu saat nanti ayah akan
kembali kepadanya menyusul ibumu ..dan ayah tidak ingin melihatmu rapuh ketika
ayah pergi, dengan zahro pergi ke pesantren zahro mungkin akan lebih mandiri
dan tidak akan serapuh itu” tiba-tiba ayah mengeluarkan sesuatu, tepatnya
selembar kertas “ini untuk zahro, ayah
akan pergi sebentar mungkin zahro butuh
sendiri untuk merenungkannya” ia pergi menjauh dariku. Ku lihat lipatan
kertasnya begitu kusam mungkin sudah lama dibuat, “Mungkin ini sudah
waktunya..” aku membacanya dengan lirih, ini jelas bukan tulisan ayah atau
kakak. “maafkan aku tidak bisa menemanimu hingga usia senja kita, maafkan aku
tidak bisa menemanimu merawat kedua anak kita, aku mungkin akan pergi selamanya
tapi tolong tetaplah terlihat tegar didepan mereka. Semua orang akan mengalami
ini ... ditinggalkan oleh orang yang mereka sayangi namun kuharap kau dapat
mendidik mereka mandiri karena aku tidak ingin melihat mereka rapuh ketika
suatu saat kau harus menjemputku...” membaca sepenggalnya membuat mataku
menetes. Ayah tiba-tiba datang memelukku dengan lembut “zahro tahu kenapa
sampai sekarang ayah begitu tegar ketika ibu tiada..? karena Ibu selalu
mengajarkan ayah arti ketegaran, walaupun pada awalnya ayah sangat terpukul dan
rapuh dalam hati ayah” ia mengelus rambutku dengan kasih sayang.
6 tahun bukanlah waktu yang sedikit, setidaknya
kau harus tahu ditahun pertama aku begitu rapuh, cahaya ku mulai redup persis
seperti yang dikatakan ayah. Aku sering menangis merindukan rumah namun itu
tidak berlangsung lama, di tahun-tahun berikutnya aku mulai merasakan arti
pesantren dimana terkadang orang sering menafsirkan kami sebagai orang yang
terpenjara dalam penjara suci tapi tidak bagiku, pesantren adalah tempat bermain
kami juga sebagai tempat mengembangkan jiwa yang tangguh. Mungkin inilah yang
sedang dibutuhkan bangsa kita generasi yang berjiwa tangguh bukan mereka yang
berjiwa pengecut ketika menghadapi sesuatu lalu berputus asa dan berontak
sehingga menjadi berandalan yang tidak jelas....percayalah aku benar-benar
mengalaminya hari itu. “Kenapa kak kok tiba-tiba ngajak pulang..?” tanyaku
heran “Ada sesuatu yang harus kakak beritahu pada zahro..” katanya sedikit
tergagap “kok harus pulang sih kak..? ngomong disini kan bisa” kataku polos.
Aku, kakakku dan suaminya berada di ruang tamu, suasananya terasa sunyi seperti
ada sesuatu yang tidak beres “ayah tenggelam..” kata kakakku lirih. Entah
tiba-tiba air mataku tak dapat dibendung “sebenarnya ayah sudah tenggelam dua
hari yang lalu” ia melanjutkan pembicaraannya “kenapa kakak tidak langsung
memberitahuku..!!” aku mulai marah, kakakku memegang tanganku dengan erat “dengarkan
dulu zahro..sebenarnya kakak ingin langsung memberitahumu, tapi kakak nggak
pengen kamu terlarut dalam kesedihan itu karena sebenarnya tim SAR sudah
dikirim untuk mecari jasad ayah, namun hingga saat ini ayah belum ditemukan”
aku melepaskan pelukan kakakku, berlari kencang pergi ke pelabuhan
“Ayaaahh..!!!” aku berteriak dengan kencang. Persendianku lemas, satu hal yang
kuingat darinya ketika ia memberikan sebuah lembaran kertas bahwa aku pasti akan
mengalami hal ini dan aku sadar semuanya telah terjadi dan aku tidak dapat
menentang takdir kematian ayah ataupun memperpanjang umurnya. Satu hal yang
harus kuingat, semua yang bernyawa akan kembali padaNya dan aku harus tetap
tegar walau terasa berat. Kini aku berjanji meski tanpanya aku akan tetap membuatnya
merasa bangga bahwa ia memiliki anak perempuan yang begitu tegar walau sejak
kecil aku hanya dibesarkan dengan kasih sayang sang ayah “ingat aku akan
membuat kalian bangga..percayalah itu ayah..ibuu” kataku lirih menatap senja
diantara kapal-kapal pelabuhan.
Komentar
Posting Komentar